Dalam sejarah bulu tangkis modern, perubahan sistem penilaian dari rally point 15 (di putra) dan side out 11 (di putri) ke sistem reli 21 poin pada tahun 2006 adalah momen krusial yang secara radikal mengubah cara bermain atlet. Perubahan ini memaksa pelatih dan pemain untuk Membongkar Strategi Permainan tradisional dan mengadopsi pendekatan yang lebih agresif sejak awal. Membongkar Strategi Permainan kini tidak hanya berfokus pada daya tahan fisik, tetapi juga pada manajemen risiko dan kemampuan untuk mendominasi poin-poin awal. Implementasi sistem 21 poin oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) bertujuan membuat pertandingan lebih cepat, dinamis, dan menarik bagi penonton.
Transisi dari Side Out ke Rally Point
Sebelum tahun 2006, pemain hanya bisa mendapatkan poin ketika mereka memegang serve (side out). Sistem ini membuat durasi pertandingan sangat tidak terduga; satu pertandingan tunggal bisa berlangsung hingga dua jam lebih, menguras energi. Setelah sistem reli 21 poin diberlakukan, setiap reli yang dimenangkan akan menghasilkan satu poin, terlepas dari siapa yang melakukan servis. Perubahan ini secara langsung mempengaruhi Membongkar Strategi Permainan dalam tiga aspek utama:
- Agresivitas Dini: Karena setiap kesalahan berarti kehilangan poin, pemain tidak bisa lagi “menyimpan” energi atau menunda agresivitas. Mereka harus menyerang sejak serve pertama untuk membangun keunggulan skor cepat (misalnya, mencapai skor 11 poin di jeda pertama).
- Manajemen Serve: Pukulan serve kini menjadi sangat penting. Di sistem lama, kesalahan serve hanya berarti hilangnya serve; di sistem baru, itu berarti kehilangan poin. Hal ini mendorong inovasi serve baru, seperti drive serve yang cepat dan flick serve yang mengejutkan, sambil meminimalkan risiko kesalahan.
Fokus pada Poin Kritis dan Deuce
Meskipun batas akhir skor adalah 21, Membongkar Strategi Permainan yang efektif juga harus memperhatikan poin-poin kritis. Dua poin yang sangat vital adalah Poin ke-11 (interval wajib) dan Poin ke-20 (Game Point). Poin ke-11 memberikan kesempatan bagi pelatih, yang hanya diizinkan memberikan instruksi pada jeda ini, untuk menilai situasi dan menyesuaikan taktik, seperti menginstruksikan atlet untuk fokus menyerang ke sisi backhand lawan.
Situasi Deuce (20-20) juga memerlukan adaptasi. Pada 20-20, permainan berlanjut hingga ada pemain atau pasangan yang unggul dua poin, dengan skor maksimal 30. Hal ini secara mental sangat menguras energi. Strategi yang harus diterapkan adalah bermain rally yang aman namun terus menekan. Pemain tidak boleh mengambil risiko error yang tidak perlu, tetapi juga tidak boleh membiarkan lawan mendominasi permainan. Analisis match final di Indonesia Open pada tahun 2024 menunjukkan bahwa pemain yang memenangkan rally pertama setelah Deuce memiliki persentase kemenangan game sebesar 70%, menekankan pentingnya fokus pada momen Deuce pertama.
